Sebal, sebal,” gerutuku sendiri. Om Roy dan keluarganya akan datang
ke rumah. Oli dan Ola sepupu kembarku itu pasti bikin kacau lagi.
“Lea…” Bunda memanggilku dari dapur. “Oli dan Ola sebentar lagi sampai, lo!”
Bunda mengabarkan berita itu dengan senang. Terus aku harus bilang
wow, gitu? Aku menirukan gaya iklan di televisi, namun cuma di dalam
hati. Pokoknya, aku tak suka dengan kehadiran sepupuku. Mereka selalu
ribut dan suka mengambil mainanku. Ujung-ujungnya, Bunda selalu membela
mereka. Alasannya, karena umurku lebih tua setahun dari mereka. “Ya,
Bund, sudah tahu,” jawabku pelan. Pipiku yang gembul seperti bakpao
tambah membulat karena cemberut. Bunda tersenyum. Mungkin Bunda tahu
kalau aku sedang kesal.
Lima bulan yang lalu, mereka berlibur di rumahku. Boneka Pandaku
kotor karena ulah mereka. Tabletku juga rusak karena terjatuh saat
mereka rebutan. Selain nakal, mereka juga usil, selalu memanggilku
dengan panggilan Le. Ugh! Namaku, kan, Lea. Kenapa disingkat jadi Le?
Kini aku sibuk menyimpan semua mainanku. Boneka, Barbie, Monopoli, Bola
Voli… Semua semua ku simpan di dalam kardus. Dengan susah payah ku
simpan dus itu di gudang belakang. Mereka tak akan bisa menemukannya.
Tingdong, tingdong… Bel berbunyi. Bi Euis tergopoh-gopoh membuka
pintu. Aduh, mereka sudah datang. Oli, Ola sudah melihatku. Tak ada
waktu untuk bersembunyi. Mereka segera menghambur ke arahku. ‘Huh…
mereka mulai beraksi.’ omelku di dalam hati. “Kak Lea, kami datang,”
seru mereka berbarengan. Mereka tampak sangat gembira bertemu denganku.
Si kembar membawakan makanan kesukaanku, Abon ciri khas makanan dari
kota mereka Medan. Dan… eh, apa aku tidak salah dengar tadi? Mereka
memanggilku Lea, bukan Le.
“Main yuk, Kak!” ajak mereka.
“Enggak, ah, aku tidak punya mainan sekarang,” kataku bohong.
“Tenang, Kak! Kami bawa banyak mainan. Ada satu kardus di mobil Ayah,” jawab Oli semangat.
“Ya, Kak. Biar kita puas bermain, dan enggak akan rebutan lagi!” timpal Ola, yang agak pendiam.
Aku terdiam. Lima bulan aku tak bertemu sepupuku. Ternyata mereka sudah
berubah sekali. Mereka tak seperti yang aku duga. Maafkan aku yang telah
berburuk sangka pada kalian, bisikku di dalam hati. Aku segera memeluk
kedua sepupu kembarku itu.
Cerpen Karangan: Elsa Puspita Ronald
Blog: http://kampungmarinduKM.blog.com
Nama Lengkap: Elsa Puspita Ronald.
Kelas: Enam SD.
Umur: 10 Tahun Jalan 11.
Sekolah: Marindu Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan, Tengah, Kampung Marindu Jaya, Puruk Cahu Jaya.
Nama Ibu: Elsiana.
Nama Ayah: Ronaldi.
Pekerjaan Ibu: Swasta.
Pekerjaan Ayah: Swasta.
Sekian terima kasih yah, untuk yang baca cerpenku selamat membaca,
semoga cerpenku yang satu ini dimuat soalnya aku sudah banyak ngirim
cerpen nggak juga dimuat-muat. Bye bye.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar