Namaku Lyna. Aku bersekolah di SD yang lumayan bagus. Aku punya
sahabat yang baik di sekolah. Tapi, ada satu hal yang membuatku kesal
dengan SD ini. Tak semua temanku anak baik-baik. Aku kesal dengan
seorang anak, pemimpin geng kecil-kecilan, Loly and The Geng. Berawal
dari regu pramuka, menjadi sebuah geng. Geng yang sangat lebay dan
selalu merasa merekalah yang paling utama. Dialah Lolitha yang sok
bossy. Aku harap tidak se-SMP dengannya. Hari ini kesempatan besar
untukku, karena ada seleksi lomba tingkat kota. Pemenangnya akan maju ke
tingkat provinsi dan nasional! Aku sangat senang kalau bisa mewakili
sekolah. Perwakilan kelasku ada tiga anak, yaitu Lolitha, Zenna, dan
Sisca. Seharusnya ada empat anak. Ketika sedang berpikir siapa yang akan
diajukan lomba, wali kelasku berkata.
“Lolitha, kenapa tidak Lyna saja? Dia kan, pintar,” mendengarnya,
Lolitha terlihat sedikit berpikir. Akhirnya dia berkata. “Lyna, kamu mau
enggak, ikut lomba itu? Tapi, kamu harus punya e-mail, karena
seleksinya online. Gimana?” tanya Lolitha tanpa ekspresi.
“Hm.. mau, aku juga punya e-mail, kok. Tapi aku enggak tahu masih bisa dipakai apa enggak,” jawabku.
“Nanti kamu cek, ya, e-mail-mu.” kata Lolitha singkat. Aku pun mengangguk.
Di rumah, dengan bersemangat, aku memberitahu hal ini pada ayahku.
Aku segera membuka e-mail-ku. Mungkin gara-gara di-hack atau gimana,
e-mail-nya enggak bisa dibuka. Akhirnya aku buat e-mail dan facebook
baru sekalian. Butuh waktu berjam-jam untuk membuatnya. Keesokan
harinya. Aku bingung apa yang terjadi dengan Lolitha, Sisca, dan Zenna.
Wajah Lolitha kaku kepadaku, seperti biasanya. Sisca dan Zenna agak
gelisah, seperti mau mengutarakan sesuatu kepadaku.
“Lyna..” panggil Sisca pelan sambil tertawa kecil. “Aku mau ngomong sama kamu, tapi..”
“Tapi apa?” tanyaku.
“Hm.. maaf ya.. sebelumnya… Hehe,” kata Sisca ragu-ragu. “Maaf, ya,
Lyn.. kamu.. kamu enggak jadi kepilih lomba. Maaf… Sekali lagi maaf, ya,
Lyn!” ucap Sisca gugup dan merasa bersalah.
“Oh.. ya, enggak apa, kok!” jawabku sambil tersenyum. Sejujurnya, aku
tidak terlalu ikhlas untuk tersenyum karena di sebelah Sisca ada
Lolitha.
Waktu istirahat telah tiba. Aku hendak berjalan ke luar kelas.
“Sorry, ya, Lyn.. enggak kepilih… Sekalian bikin FB aja. Ya, Lyn, ya,” kata Zenna sambil bercanda.
“Hihi, iya, enggak apa, kok, Zen.” jawabku sambil tertawa.
Beberapa hari kemudian, temanku Mira datang ke rumahku. Dia tetanggaku, sekaligus teman sekelasku.
“Hai, Lyn!” sapa Mira. Aku membalas sapaannya. Kami berbasa-basi sebentar, kemudian duduk di teras.
“Eh, Lyn, aku mau ngasih tahu sesuatu,” kata Mira memulai obrolan.
“Apa itu?” tanyaku kepo.
“Sebenarnya, ya, kamu mau dipilih buat lomba, loh. Sisca sama Zenna
ingin kamu yang ikut. Tapi, enggak tahu kenapa, Lolitha ngambek kalau
kamu ikut,” kata Mira jujur.
Aku tersentak mendengarnya. Memang apa salahku? aku sakit hati banget
gara-gara itu. Enggak cuma kali itu Lolitha bersikap seperti itu
kepadaku. Meskipun di kelas aku sering mendapat ranking 1, 2 atau 3,
tetapi aku enggak pernah mewakili sekolahku dalam perlombaan apa pun.
Aku pernah dipilih untuk ikut seleksi olimpiade, tetapi belum sampai
maju sudah dinyatakan tak lolos. Yang lolos malah Lolitha, anak yang
masuk sepuluh besar di kelas pun tidak. Aku muak mendengar nama itu. Dia
selalu menjegalku. Ketika aku hampir terpilih untuk mewakili sekolah,
ada saja alasannya untuk menyingkirkanku. Aku tak tahu, kenapa guru-guru
juga membiarkan semua itu? Setiap lomba yang maju cuma anak yang
itu-itu saja. Padahal tidak termasuk anak pandai. Tak heran SD-ku tidak
pernah menang, karena bukan siswa-siswa terpandai yang maju lomba.
Beberapa waktu kemudian, usai sudah masa SD. Aku masuk SMP favorit di
kotaku. Sedangkan Lolitha yang sok pintar hanya mendapat sekolah yang
biasa saja karena nilainya tak cukup. Aku senang tak satu sekolah
dengannya, karena tak ada lagi yang akan mencurangiku. Aku mendapat
banyak teman baru di sini. Semuanya baik, seru, dan yang jelas pintar.
Tak ada yang perlu curang untuk menjadi yang terdepan, karena semua
murid di sini pintar-pintar. Saat pulang sekolah, aku bertemu dengan
teman-teman SD-ku. Tentu aku bahagia, karena bisa bertemu dengan
sahabatku. Tapi kalian bisa menebaknya. Ya, aku juga bertemu Loly and
The Geng.
Semua anggota gengnya berubah menjadi pendiam dan lesu. Aku rasa
mungkin mereka merasa bersalah, atau menyesal. Sepertinya, Lolitha ingin
bicara denganku, setidaknya untuk bertegur sapa. Tapi dia sangat diam.
Sampai akhirnya. Dia berjalan ke arahku sambil menunduk. Kini Lolitha
sudah di depan mataku. Matanya berkaca-kaca, seperti hampir menangis,
dan menatapku. “Lyn.. maafin aku, ya. Aku harap aku enggak pernah
berbuat jahat sama kamu. Hiks.. hiks. Ternyata, semua yang aku lakukan
seolah enggak ada gunanya. Kamu yang selalu aku curangi malah masuk
sekolah favorit itu. Aku menyesal, maaf, ya… Hiks..” isaknya. Aku tidak
menyangka Lolitha bisa bicara seperti itu. Lolitha pun mengulurkan
tangannya. Tangan kirinya mengusap air matanya yang mengalir deras.
“Iya, Lolitha! Aku maafin kamu, kok. Tapi jangan pernah kamu ulangi,
ya.” aku pun menyambut tangannya. Lolitha bisa tersenyum kembali. Aku
tertawa kecil. Akhirnya dia sadar juga! Sorakku dalam hati. Aku
senyum-senyum sendiri.
“Kenapa, Lyn, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Lolitha.
“Enggak apa, kok. Hahaha!” tawaku.
“Ah, Lyna stres ya?” canda Lolitha. Kami tertawa bersama.
Akhirnya Loly and The Geng menyapaku. Kami semua bercerita tentang
sekolah masing-masing, bercanda, dan tertawa bersama. Aku merasa puas
dan tidak ada beban lagi di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar